Banyak orang mengira bau kaki dan bau ketiak berasal dari sumber yang sama: keringat. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, perbedaan aromanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, mikrobiologis, dan lingkungan. Inilah alasan kenapa bau ketiak cenderung tajam dan asam, sementara bau kaki sering menyerupai aroma keju.
Penyebab utama perbedaan aroma antara kaki dan ketiak terletak pada tipe kelenjar keringat yang dominan di masing-masing area.
Ketiak memiliki dua jenis kelenjar:
Kelenjar apokrin, yang menghasilkan keringat mengandung lemak dan protein
Kelenjar ekrin, yang menghasilkan keringat encer
Masalah muncul ketika keringat dari kelenjar apokrin diurai oleh bakteri. Proses inilah yang menghasilkan aroma badan yang tajam dan khas.
Sebaliknya, kaki hampir sepenuhnya didominasi oleh kelenjar ekrin. Keringatnya memang lebih encer, tetapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kondisi lembap yang terus-menerus inilah yang memicu munculnya bau kaki, terutama saat kaki terkurung dalam sepatu tertutup.
Aroma tidak berasal dari keringat itu sendiri, melainkan dari interaksi keringat dengan bakteri. Menariknya, jenis bakteri di ketiak dan kaki juga berbeda.
Didominasi oleh:
Corynebacterium
Staphylococcus hominis
Bakteri ini mengurai protein dan lipid dalam keringat apokrin, menghasilkan bau asam dan menyengat.
Didominasi oleh:
Brevibacterium
Bakteri ini terkenal karena juga digunakan dalam proses fermentasi keju Limburger. Inilah alasan ilmiah kenapa bau kaki sering kali mengingatkan pada aroma keju.
Lingkungan tempat keringat berada sangat menentukan intensitas bau.
Kaki: lembap, hangat, minim ventilasi, terkurung dalam sepatu dan kaus kaki selama berjam-jam
Ketiak: meski tertutup pakaian, masih memiliki sirkulasi udara yang relatif lebih baik
Kondisi kaki jelas jauh lebih ideal bagi bakteri untuk berkembang biak secara agresif.
Secara anatomi, kaki adalah salah satu bagian tubuh dengan kelenjar keringat terbanyak.
Sekitar 250.000 kelenjar keringat terdapat di kaki
Produksi keringatnya bisa mencapai hingga setengah liter per hari
Bandingkan dengan ketiak yang volumenya jauh lebih kecil. Tidak heran jika bau kaki sering terasa lebih kuat dan persisten.
pH kulit juga memainkan peran penting dalam menentukan jenis bakteri yang berkembang.
Ketiak → pH lebih asam
Mendukung bakteri penghasil bau tajam dan menyengat
Kaki → pH lebih netral
Ideal bagi bakteri yang menghasilkan aroma fermentasi
Perbedaan pH ini membuat karakter bau yang dihasilkan menjadi sangat berbeda.
Faktor eksternal sering kali luput diperhatikan.
Kaki bersentuhan dengan sol sepatu, foam, dan kaus kaki sintetis yang mudah menjadi “reservoir” bakteri
Ketiak lebih sering bersentuhan dengan kain seperti katun yang lebih mudah menyerap keringat dan dibersihkan
Akumulasi bakteri pada alas kaki memperparah aroma tidak sedap.
✔ Jenis kelenjar keringat berbeda
✔ Komposisi bakteri berbeda
✔ Lingkungan mikro berbeda (sepatu lebih pengap)
✔ pH kulit tidak sama
✔ Produksi keringat kaki jauh lebih banyak
Bau ketiak → tajam dan asam
Bau kaki → mirip aroma keju
Jika masalah utama ada di ketiak, pendekatan yang efektif bukan sekadar menutup bau, tetapi mengontrol keringat sekaligus menjaga kesehatan kulit. Di sinilah peran OWNSKIN Antiperspirant menjadi relevan.
Menenangkan kulit sensitif
Mengurangi kemerahan dan iritasi
Memperkuat skin barrier ketiak
Aman untuk pemula dan kulit sensitif
Membantu mencerahkan kulit ketiak secara lembut
Menyamarkan area gelap akibat gesekan
Tidak menyebabkan iritasi
Mengurangi keringat berlebih dan bau badan lebih tahan lama
Merawat kulit ketiak agar tetap halus, cerah, dan sehat
Dengan kombinasi formula yang seimbang antara efektivitas dan kenyamanan kulit, OWNSKIN membantu mengatasi bau ketiak tanpa membuat kulit perih atau kering.